Kamis, 11 Februari 2010

DELETION



Rei atau Dia adalah seorang anak yang memiliki perasaan kuat untuk membela kebenaran dan bisa menilai dengan benar hal yang baik dan yang tidak dari sudut pandang orang-orang dewasa. Lalu banyak melihat penderitaan dan kematian di sekitarnya... dibandingkan dengan orang-orang biasa.
Apakah dia seorang manusia pengundang kematian? Ataukah itu hanyalah kebetulan semata? Yang jelas, meski pernah menginginkan kematian, dia tak pernah membunuh. Itu semua hanyalah kebetulan.

Sejak kecil, dia sudah memperhatikan sekitarnya dengan cermat dan memikirkan banyak hal.
Menurutnya, dunia ini terbagi dua. Orang jahat dan orang baik, kejahatan dan kebenaran, teman dan musuh, serta sebagainya.
Dia memiliki perasaan kuat untuk membela kebenaran dan selalu mendapat nilai tinggi dari semua prestasinya. Menurutnya, itu merupakan sebuah medali. Dia berjanji pada dirinya sendiri akan bertanggungjawab mengatur segala sesuatu agar menjadi baik bahkan menjadi yang paling "terbaik" dari semua yang terbaik (spesial). Tapi selalu saja ada orang yang tidak suka dengan sikapnya itu...
Pasti selalu ada kejahatan. Selalu ada musuh untuk menghancurkan.
Dia melawan kejahatan itu. Tapi sesekali, ada kalanya kebenarannya kalah. Anak-anak di sekitarnya melihatnya seperti itu. Ada juga pandangan mata yang dingin orang-orang yang lain, tapi dia tidak berhenti dari panggilan jiwanya itu.
Sebesar apapun akibat yang diterimanya, tetap ada kegembiraan di dalamnya yaitu..
Ucapan "Terima Kasih" dari korban yang ditolongnya. Berkali-kali dia tertolong oleh perasaan itu.
Berbekal hal itu, dia bertekad untuk berusaha lebih bersungguh-sungguh . Kadang para penyerangnya kalah dengan obsesinya... Membuktikan dirinya benar..!!!
Tapi itu hanya bertahan saat anak-anak. Ketika remaja, dia mengalami kesulitan dalam membela kebenaran.
Jika melawan kejahatan, dia dan sang korban justru dijadikan target. Anak-anak yang hanya melihatnya selama ini, juga para penyiksa, dan para korban, justru menjadi musuhnya.
Para penyiksa memaksa anak-anak lain untuk melakukan kekerasan padanya dan sang korban. Semua menjadi lawannya. Tak ada lagi yang menjadi temannya.
Dia sering dipukuli sampai tak terhitung lagi. Kadang-kadang diikat di pohon, kadang-kadang ditelanjangi, dan sebagainya.
Meskipun begitu, dia tetap bertekad menegakkan kebenaran demi dirinya dan anak-anak yang menjadi korban.
Sampai akhirnya dia berpikir, untuk menolong para korban, sebaliknya para penyiksa itu disingkirkan saja dari dunia ini.
Dia menceritakan semuanya pada ibunya yang merupakan orang tua tunggal karena percaya ibunya pasti akan membelanya.
Tapi ibunya hanya berkata, "Dunia ini tak akan berubah seperti keinginanmu. Kamu bukan target penyiksaan mereka, jadi hentikanlah tindakanmu itu."
Itu adalah ucapan karena mencemaskannya. Tapi bagi dia...
"Tidak benar. Orang Tua yang tidak benar. `Akulah yang benar`". Saat itu, di dalam hati, dia benar-benar tidak setuju dengan ibunya.
Lalu terjadilah sebuah mukjizat baginya. Tepatnya sebuah kebetulan.
Para penyiksa yang berjumlah empat anak itu tanpa memiliki SIM, menyetir mobil dengan kebut, lalu menabrak dinding. Kecelakaan itu juga menciderai orang-orang dan menewaskan satu korban lainnya yaitu ibunya.
Lenyapnya orang-orang yang dia benci terjadi dalam waktu yang bersamaan. Awalnya, dia merasa takut. Hatinya bergetar dan air matanya menetes. api pasti ada yang merasa senang dengan kematian ini.
Anak-anak yang biasanya menjadi korban pasti merasa senang. Tidak hanya anak-anak itu saja, hampir sebagian besar murid di sekolahnya juga pasti merasa bahagia.
Dugaannya tak salah. Beberapa hari kemudian, suasana di sekolah bahkan diluar di sekolah menjadi damai. Banyak wajah yang berseri-seri.
Menghadapi kenyataan yang seperti ini, dia berpikir, "Jika berbuat jahat, pasti akan dapat balasan". Dan juga menurutnya, "Kejahatan harus dibasmi!". Perasaannya itu menjadi semakin kuat.
Dia melanjutkan sekolahnya. Disana, dia juga menemukan orang-orang yang jahat yang tidak pantas hidup atau selalu merugikan orang lain. Setiap melihat orang-orang itu, dia berusaha meluruskan mereka. Tapi semakin dewasa, kesalahan seseorang semakin sulit untuk diperbaiki.
"Orang yang tidak bisa memperbaiki kesalahannya sebaiknya disingkirkan saja demi dunia ini". Semakin lama, pemikirannya itu semakin kuat karena entah mengapa penyingkiran itu selalu terjadi setiap kali memikirkannya. Sesaat dia merasa takut pada dirinya sendiri. Selalu terjadi penyingkiran dari orang-orang yang ingin dilenyapkannya. Dia merasa mungkin dirinya manusia spesial.
Yang pasti, "Jika berbuat jahat, akan dapat balasan". Ada hukuman dari langit. Hukuman seperti itu harus ada. Itulah kenyataannya. Karena itu, jika ada yang berbuat jahat dan tidak mendapat hukuman dari langit, maka seseorang harus mewakili langit untuk memberinya hukuman.
Membasmi kejahatan adalah kebenaran. Banyak sekali manusia yang harus dibasmi .
Di masyarakat, yang paling berperan untuk menjatuhkan hukuman pada orang jahat adalah seorang jaksa.
Menurutnya, seorang jaksa adalah sebuah kebenaran dan pekerjaan yang cocok dengan orang yang seperti dirinya. Lalu ketika dia sampai pada pekerjaan yang diimpikannya...
Sang Dewa turun ke Bumi...
Dia yakin yang terjadi di sekitarnya selama ini memang hukuman dari Dewa.
Dengan turunnya Sang Dewa, dia merasa senang karena hal itu, membuktikan kebenaran yang dipertahankannya selama ini. Kepercayaan dan juga pemikirannya memang benar.
Dewa memperhatikan dirinya, menyokong dirinya yang tidak mau menyerah pada kejahatan dengan menghakimi mereka.
Tak salah lagi, Dewa mengawasinya, mengenalnya...
Sebisa mungkin dia memperbanyak usaha dan waktu untuk pergi ke tempat-tempat yang kemungkinan dirinya akan terlihat oleh Sang Dewa.
Dan akhirnya, Dewa mengenali dan menerima dirinya. Tak hanya menerimanya, Dewa juga membagi kekuatannya.
Dia mendapatkan izin untuk menjadi Dewa juga.

Tidak ada komentar:

Grab this Widget ~ Blogger Accessories